Tuesday, 18 August 2026

Babukung, Tarian Kematian Suku Dayak Tomun Kalimantan

LAMANDAU, Lamandausega.com — Babukung merupakan salah satu tradisi budaya yang hidup di tengah masyarakat Dayak Tomun di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Seni tari Babukung awalnya dikenal sebagai bagian dari rangkaian penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia sekaligus bentuk kebersamaan masyarakat dalam suasana duka.

Dalam perkembangannya, tarian Babukung yang dahulu hanya ditemui dalam acara penghormatan kematian suku Dayak Tomun (ditemukan juga di masyarakat suku Dayak Ngaju dan Danum) telah menjadi sebuah event tahunan yang digagas Pemerintah Kabupaten Lamandau guna melestarikan kearifan lokal yang dimiliki daerah berjuluk Bumi Bahaum Bakuba itu.

Kini, Babukung ditampilkan didepan khalayak melalui tarian para penari (bukung), yakni orang-orang yang mengenakan topeng (luha) dan kostum khas dengan bentuk serta karakter yang beragam, seperti karakter hewan (burung, kupu-kupu, anjing, kelelawar, naga dll). Mereka bergerak mengikuti irama musik tradisional dan bunyian hentakan bambu yang belah atau disebut Tatakup, setiap gerakan  menciptakan suasana yang khas di tengah prosesi kematian namun memiliki nilai budaya yang luhur.

Meski kerap disebut sebagai “tarian kematian”, Babukung bukan sekadar pertunjukan hiburan. Di dalamnya terkandung nilai sosial, budaya, dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun mengikuti perkembangan zaman.

Kehadiran para Bukung menjadi simbol bahwa keluarga yang sedang berduka tidak menghadapi kehilangan seorang diri. Masyarakat datang dan mengambil bagian dalam prosesi tersebut sebagai bentuk solidaritas serta penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Gerakan dan karakter dalam Babukung juga memiliki makna tersendiri. Topeng  atau luha dan atribut yang digunakan tidak hanya menjadi pelengkap penampilan, tetapi menjadi bagian dari identitas tradisi yang membedakannya dari kesenian daerah lainnya.

Bagi masyarakat Dayak Tomun, Babukung merupakan salah satu warisan leluhur yang memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas menjaga hubungan sosial ketika menghadapi peristiwa kematian. Tradisi tersebut mempertemukan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan, sekaligus menjadi sarana meneruskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Babukung menghadapi tantangan regenerasi dan perubahan pola kehidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan menampilkan tarian dalam acara kebudayaan, tetapi juga perlu disertai pemahaman mengenai sejarah, nilai, dan makna yang terkandung di dalamnya.

Babukung pada akhirnya bukan hanya tentang topeng, musik, dan gerakan tari. Ia adalah gambaran tentang cara masyarakat Dayak Tomun memaknai kehilangan, menghormati mereka yang telah meninggal, serta menunjukkan bahwa dalam suasana duka, kekuatan sebuah komunitas tetap hadir untuk saling menopang.

Babukung adalah tradisi tentang kematian, tetapi sekaligus menjadi gambaran tentang kehidupan—tentang kebersamaan, penghormatan, dan warisan leluhur yang terus dijaga. (BLS)

LAMANDAUSEGA