Tips

Trik Atasi Hama Pada Kelapa Sawit

Anda punya kebun kelapa sawit dan sedang pusing dengan hama yang menyerang kebun anda? Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditi utama...

Avatar Written by Tukang Admin
· 2 min read >

Anda punya kebun kelapa sawit dan sedang pusing dengan hama yang menyerang kebun anda? Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditi utama pemerintah di sektor non migas.

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia.

Hampir sepertiga pasokan devisa negara disumbang dari keuntungan non migas. Untuk itulah, pemerintah sangat giat membudidayakan tanaman kelapa sawit di pulau-pulau seluruh nusantara. Terutama pulau kalimantan, sulawesi, papua dan sumatera.

Banyak lahan kelapa sawit yang bertebaran di pulau-pulau tersebut menimbulkan masalah baru. Yaitu, munculnya serangan hama dari hewan-hewan pengganggu seperti tungau, ulat api hingga serangga penggerek tandan buah.

Serangan hama kelapa sawit merupakan masalah yang paling sering dihadapi oleh para petani sawit. Hama tanaman bisa menyebabkan penurunan produksi kelapa sawit secara signifikan, bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman kelapa sawit.

Dibutuhkan langkah yang efektif untuk membasmi hama pada tanaman kelapa sawit.

Nah simak, berikut ini cara mengendalikan hama pada tanaman kelapa sawit:

1. Tungau

Tungau yang menyerang tanaman kelapa sawit adalah tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Tungau ini berukuran 0,5 mm, hidup di sepanjang tulang anak daun sambil mengisap cairan daun sehingga warna daun berubah menjadi mengkilat berwarna kecoklatan.

Hama ini berkembang pesat dan membahayakan dalam keadaan cuaca kering pada musim kemarau. Gangguan tungau pada persemaian dapat mengakibatkan rusaknya bibit.

Pengendalian terhadap tungau merah ini dapat dilakukan dengan penyemprotan dengan akarisida yang berbahan aktif tetradion 75,2 gr/lt (Tedion 75 EC) disemprotkan dengan konsentrasi 0,1-0,2%.

2. Hama ulat api (Setora nitens)

Sepanjang hidupnya ngengat ulat api betina mampu menghasilkan sekitar 400 butir telur. Telur akan menetas dalam hitungan hari sekitar 5-7 hari. Umumnya, berada di pelepah daun tanaman kelapa sawit ke 16 atau 17.

Ulat api ini akan berkoloni dan meletakkan tellur sehingga mengganggu pertumbuhan daun hingga hanya menyisakan bagian lapisan epidermis daun saja.

Cara mengatasinya:

  1. Pembasmian ulat api bisa dilakukan dengan cara manual yaitu diambil dan dibakar.
  2. Pembasmian ulat api secara alami menggunakan teknik parasitoid larva yaitu trichogramma sp.
  3. Pembasmian ulat api secara perlakuan virus seperti mnvp (multiple nucleo polyhedro virus)
  4. Pembasmian jamur bacillus thuringiensis
  5. Penyemprotan dengan insektisida pada tanaman kelapa sawit saat berumur 2 ½ tahun secara manual. Kemudian, apabila tanaman sudah mencapai umur lebih dari 5 tahun memakai mesin penyemprot.

3. Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus

Hama ini menyerang akar tanaman kelapa sawit. Serangan nematoda Rhadinaphelenchus cocopilus menimbulkan gejala berupa daun-daun muda yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak.

Selanjutnya daun berubah warna menjadi kuning dan mengering. Tandan bunga membusuk dan tidak membuka, sehingga tidak menghasilkan buah.
Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan cara tanaman yang terserang diracun dengan natrium arsenit.

Untuk memberantas sumber infeksi, setelah tanaman mati atau kering dibongkar lalu dibakar.

4. Hama penggerek tandan buah

Seperti namanya, hama penggerek tandan buah meletakkan telur di antara tandan buah. Jika menetas, maka ulat akan mengganggu kualitas buah sawit karena membentuk lubang dalam buah kelapa sehingga dapat mengurangi mutu atau kualitas buah kelapa sawit yang dihasilkan.

  1. Pembasmian buah busuk yang terkontaminasi hama
  2. Buah yang terinfeksi hama segera dimusnahkan dengan cara dikubur dalam satu lubang dan diberi insektisida fipronil sebanyak 7-15 liter, dengan volume semprot 370-400 liter per hektar.
  3. Pembasmian gulma atau rumput liar yang mengganggu seperti rumput teki, bayam-bayaman dan sebagainya untuk menjaga agar kadar kelembapan tanah tetap stabil dan tidak terlalu tinggi.
  4. Memantau serangan hama dengan cara memonitor jumlah atau berapa sering hama-hama tersebut menyerang setiap pohon dalam jangka satu bulan sekali. Jika serangan kerap terjadi hingga 30% pada tanaman muda (50%) dan tanaman tua (605), maka disarankan perlu untuk dilakukan pengendalian hama.

5. Kumbang Oryctes rhinoceros

Serangan hama ini cukup membahayakan jika terjadi pada tanaman muda, sebab jika sampai mengenai titik tumbuhnya
menyebabkan penyakit busuk dan mengakibatkan kematian.

Pengendalian kumbang ini dilakukan dengan cara menjaga kebersihan kebun, terutama di sekitar tanaman. Sampah-sampah dan pohon yang mati dibakar, agar larva hama mati. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

Written by Tukang Admin
Sang Admin web LamandauSega.com - Penyuka kuliner, traveling tipis-tipis, dan hobby ngulik web. Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *